Ahmadinejad Gagal Jadi Bakal Bahan Pilpres Iran

Jakarta, CNN Indonesia —

Mantan pemimpin Iran , Mahmoud Ahmadinejad , dilaporkan tidak lulus dalam seleksi bakal bahan untuk mengikuti pemilihan presiden tahun ini.

Menurut laporan kantor informasi Fars dan IRNA , yang dikutip Middle East Eye , Selasa (25/5), Ahmadinejad bersama dua pengikut lain, yakni mantan Pemimpin Parlemen Iran, Ali Larijani, dan politikus Eshaq Jahangiri tidak lolos dalam pilihan bakal calon presiden yang dilakukan oleh Dewan Penjaga.

Dilaporkan tersedia tujuh bakal calon pemimpin Iran yang lolos pilihan. Mereka adalah Hakim Gemilang Ebrahim Raisi, Wakil Pemimpin Parlemen Amirhossein Ghazizadeh-Hachemi, bekas Sekjen Majelis Tinggi Pertahanan Nasional Saeed Jalili, mantan komandan Korps Garda Revolusi Jenderal Mohsen Rezaei, anggota parlemen Alireza Zakani, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati, dan mantan Pemangku Presiden Iran Mohsen Mehralizadeh.


Terlemparnya Ahmadinejad dari bursa bakal calon presiden sebenarnya telah diperkirakan jauh-jauh hari. Pokok dia juga tidak lulus dalam seleksi bakal capres pada 2017 silam.

Dilaporkan ada 600 orang yang mendaftar sebagai bakal calon untuk mengikuti pemilihan kepala Iran tahun ini.

Dengan pemungutan bahana yang akan dilakukan kamar depan, tidak ada wujud favorit yang muncul diantara banyak kandidat yang dikabarkan.

Kemungkinan tinggi permasalahan yang diangkat di dalam pemilihan presiden tahun tersebut adalah soal penanganan terhadap pandemi virus corona, solusi bagi krisis ekonomi, serta politik luar negeri Iran terkait program nuklir serta sanksi dari Amerika Serikat.

Yang tertib diwaspadai adalah jika dengan terpilih sebagai presiden bermula dari kelompok garis cepat, maka kemungkinan bakal menghambat proses perundingan perjanjian nuklir dan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Iran mendesak AS terlebih dulu mencabut sanksi sebelum kembali membahas soal perjanjian nuklir. Sedangkan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menolak usulan itu dan menodong Iran terlebih dulu kembali menaati perjanjian nuklir sebelum mencabut sanksi ekonomi.

Siapapun nantinya yang menang pada 18 Juni akan mengoper Rouhani, sosok yang dinilai relatif moderat di Republik Islam, menjabat dua era, dan dimulai dengan Iran mencapai kesepakatan nuklir.

(ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]