Alergi Sentuhan, Remaja Denmark Jadi Papan Sketsa Hidup

Alergi Sentuhan, Remaja Denmark Jadi Papan Sketsa Hidup

Jakarta, CNN Indonesia —

Alergi sentuhan yang diderita seorang remaja asal Denmark Emma Aldenryd membuatnya berkreasi mengubah dirinya menjadi papan sketsa hidup. Aldenryd membuat tubuhnya menjadi papan sketsa yang dipenuhi berbagai gambar.

Aldenryd yang tahun ini berusia 18 tahun menderita dermatographia, kondisi langka yang menyebabkan kulitnya membengkak dan memerah saat disentuh. Alih-alih merasa frustasi, Aldenryd justru memanfaatkan kondisi yang dialaminya untuk menggambar.

Dia mengusap kulitnya dengan pensil. Sentuhan itu menimbulkan garis merah dan membuat kulitnya membengkak. Garis yang membengkak itu menciptakan ilustrasi yang menarik.


Sketsa atau efek alergi sentuhan itu bakal hilang dengan sendirinya setelah setengah jam. Kondisi ini membuat Aldenryd seolah menjadi papan sketsa berjalan.

Di kulitnya, Aldenryd menggambar apa saja yang ada diinginkannya.

“Saya mulai dengan menggambar hal-hal yang cukup acak seperti sekumpulan kata yang terlintas di benak saya. Saya mengeja kata-kata kecil dan menunjukkannya kepada teman-teman saya sebagai tipuan,” kata Aldenryd, dikutip dari Metro.co.uk.

Aldenryd banyak menggambar simbol atau tulisan singkat agar mudah dimengerti oleh orang lain. Setelah menggambar di kulitnya, Aldenryd langsung mengambil kamera dan mengabadikannya lalu membagikannya di akun Instagram miliknya @dermatographia_.

[Gambas:Instagram]

“Saya mencoba membuat banyak simbol yang dimengerti semua orang seperti wajah tersenyum atau kata-kata terkenal seperti Hi,” ujar Aldenryd.

Aldenryd mengaku banyak orang terkesan dengan kelainan yang justru kini menjadi keahliannya. Sebagian orang juga penasaran dan bertanya langsung kepadanya apakah alergi itu menimbulkan rasa sakit.

Aldenryd menjelaskan alergi itu membuatnya merasa sangat gatal. Namun, kini dia sudah terbiasa dan mengabaikan rasa gatal itu.

“Ini benar-benar gatal, tapi saya belajar untuk mengabaikannya. Itu tidak berdampak pada hidup saya,” ujat Aldenryd.

Aldenryd pertama kali menderita dermatographia itu pada tiga tahun lalu. Saat itu, seorang teman melihat lengannya merah dan bengkak. Kondisi yang sama juga diderita dua sepupu Aldenryd.

Untuk menangani alergi itu, dokter meresepkan Aldenryd antihistamin. Namun, karena masih ingin menggambar di tubuhnya, Aldenryd tak mengonsumsi obat itu.

(ptj/sfr)