Junta Militer Myanmar Klaim Kesibukan Demo Mulai Surut

Jakarta, CNN Indonesia —

Junta militer  Myanmar mengklaim aksi  presentasi menentang  kudeta mulai redup karena sebagian besar rakyat menginginkan perdamaian.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara junta militer Zaw Min Tun di Naypyitaw.

“Alasan mengurangi protes adalah karena kerja sama orang-orang yang menginginkan perdamaian, yang kami mengindahkan, ” kata Zaw Min Tun, mengutip dari Reuters, Jumat (9/4).


“Kami meminta karakter untuk bekerja sama secara pasukan keamanan dan membangun mereka, ” tambahnya.

Biar banyak orang menginginkan perbaikan, tetapi militer terus menyelenggarakan kekerasan. Hari ini dilaporkan ada empat demonstran dengan tewas dalam bentrokan secara aparat keamanan di Kota Bago, dekat Yangon.

Menanggapi kekerasan yang terus dilakukan junta militer, 18 duta besar untuk Myanmar mendesak pemulihan demokrasi dalam pernyataan bersama.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh duta besar Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Kanada, Australia, Selandia Segar, Korea Selatan, Swiss serta beberapa negara Eropa.

“Kami direndahkan oleh keberanian dan martabat mereka, ” kata duta tinggi dalam pernyataan soal para-para pengunjuk rasa.

“Kami berdiri bersama buat mendukung harapan dan cita-cita semua orang yang percaya pada Myanmar yang selamat, adil, damai dan demokratis. Kekerasan harus dihentikan, seluruh tahanan politik harus dibebaskan dan demokrasi harus dipulihkan, ” ujar Tun.

Berdasarkan catatan Lembaga Asosiasi Tumpuan untuk Tahanan Politik (AAPP) pada Kamis (8/4) jumlah korban tewas mencapai 614, sementara yang ditahan junta militer sebanyak 2857 karakter.

(isa/ayp)

[Gambas:Video CNN]