Kamikaze Pejuang Jalanan dalam Konflik Mematikan di Surabaya

Surabaya, CNN Indonesia —

Inggris kalap bukan kepalang ketika Brigjen AWS Mallaby menyentak nyawa. Sang jenderal terbunuh pada waktu yang tidak seharusnya, yakni saat penghentian senjata tengah diberlakukan pada Surabaya tak lama usai Indonesia merdeka.

Bala tentara didatangkan kembali dalam jumlah besar untuk membayar kematian sang jenderal. Perang hebat hanya susunan hitungan jam. Surabaya bakal digempur tiada ampun.

“Pada 10 November (1945) subuh, pasukan Inggris memulai suatu aksi penghapusan berdarah di seluruh pelosok  kota di bawah perlindungan pengeboman dari udara & laut, ” tulis Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern .


Konflik hebat di Surabaya selepas Indonesia merdeka tak lepas dari gelagat 6. 000 tentara Inggris yang sampai pada 25 Oktober 1945. Mereka membebaskan orang Belanda yang ditawan Jepang beserta melucuti senjata para pemuda setempat.

Hawa panas langsung membungkus Kota Surabaya. Perang begitu cepat terjadi secara serdadu Inggris yang beberapa besar berasal dari India.

Arek-arek Suroboyo begitu merepotkan Inggris. Banyak pos militernya dikepung. Negara pemenang Perang Dunia II bak menghadapi mimpi buruk yang baru di Surabaya. Hingga kemudian pemerintah dan Inggris sepakat gencatan senjata pada 30 Oktober 1945.

Imbauan gencatan senjata tak sepenuhnya menyusun bedil berhenti menyalak. Situasi di Surabaya tetap mencekam. Kedua pihak sama-sama bersiaga dan tak bisa serampangan bergerak.

Tembak-menembak pun masih terjadi di beberapa titik. Dalam penjelajahan di tengah pemberlakuan gencatan senjata, Brigjen AWS Mallaby mati terbunuh.

Siasat Bunuh Diri

Perang berkobar dalam seluruh sudut kota. Gedung-gedung terbakar. Surabaya dihujani bom dari langit. Pesawat Thunderbolt berseliweran memuntahkan peluru dibanding senapan mesinnya.

“Jam 6 pagi Sabtu itu saya dengar sebab beranda depan suara dengungan pesawat dari jarak jauh, kemudian suara tembakan dan dentuman artileri dari daerah utara kota dan bom yang dijatuhkan berkali-kali, ” kata Ruslan Abdulgani di dalam buku Seratus Hari di Surabaya dengan Menggemparkan Indonesia .

Rakyat pun tak gentar. Berselimut rasa merdeka, emosi anak buah meletup-letup. Tidak takut, namun justru seolah menyambut.

“Lebih baik jauh daripada dijajah kembali, ” penggalan pidato Gubernur Suryo malam sebelumnya.

Satu hari penuh di 10 November perang berkecamuk di Surabaya. Di malam hari, muncul para tentara berani mati yang menyelenggarakan serangan gerilya.

Mereka bahkan masuk dengan diam-diam ke dalam tank dan meledakkan diri beserta serdadu Inggris di dalamnya. Tak pernah diduga sebelumnya perang berlanjut hingga diwarnai aksi bunuh diri.

“Mereka ramai-ramai membawa tank-tank tersebut, membuka kanopinya dan langsung menerjunkan diri masuk ke dalam tank. Meledakkan seluruh isinya, tercatat diri mereka, ” tulis Des Alwi dalam bukunya berjudul Pertempuran Surabaya November 1945 .

Bersambung ke halaman berikutnya…

Kamikaze Pejuang Jalanan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA