Lain Kandungan Kimia Ganja yang Dilegalkan untuk Medis

Lain Kandungan Kimia Ganja yang Dilegalkan untuk Medis

Jakarta, CNN Indonesia —

Upah Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB ) telah menyetujui rekomendasi Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) melegalkan  ganja untuk keperluan medis.

Keputusan ini bisa mendorong upaya legalisasi ganja di seluruh dunia. Biar demikian, pemungutan suara untuk mengambil kebijakan ini tergolong alot. Sebab, dari total 53 negara, 27 negara setuju, 25 tidak putus, dan 1 negara abstain.

Usulan untuk menghapus ganja dari daftar obat paling kritis telah diusulkan selama 59 tarikh terakhir. Kesepakatan ini membuka pintu agar ganja digunakan untuk pengobatan dan terapi.



Mariyuana memiiki lebih dari 100 maujud aktif. Secara umum, ganja tunggal terdiri dari dua jenis CBD ( cannabidiol ) dan THC ( tetrahydrocannabinol ).

CBD memiliki sangat sedikit zat berbahaya, sementara THC adalah zat yang memberikan efek “high” ketika mengonsumsi ganja.

Mengutip Harvard Medical School , pada ganja secara strain yang dominan CBD, hanya memiliki sedikit atau tidak ada kandungan THC sama sekali. Sehingga, dilaporkan pasien sangat sedikit menikmati perubahan kesadaran.

Efek kimiawi ganja

Dari dua jenis ini, ganja dengan strain CBD yang biasa dimanfaatkan untuk pengobatan. Penelitian terbatas membuktikan bahwa CBD dapat mengurangi kecemasan, mengurangi peradangan dan meredakan sakit, hingga membunuh sel kanker, ayan, dan memperlambat pertumbuhan tumor.

Cannabinoid juga diakui memiliki bahan kimia aktif yang mirip secara bahan-bahan kimia yang dihasilkan tubuh bertugas meningkatkan nafsu makan, ingatan, mematok rasa sakit.

Ganja tipe Epidiolex yang terbuat sejak CBD digunakan sebagai bahan terapi bagi penderita epilepsi yang betul parah atau sulit diobati. Dalam percobaan dan penelitian itu, kira-kira orang mengalami penurunan kejang dengan dramatis setelah mengonsumsi ganja tersebut.

Epidiolex sendiri telah disetujui pada 2018 lalu untuk mengobati kejang dengan terkait dengan dua tipe ayan langka dan parah, yakni sindrom Lennox-Gastaut dan sindrom Dravet.

“Bukti terbesar untuk buah terapeutik, ganja berhubungan dengan kemampuannya untuk mengurangi nyeri kronis, mual dan muntah akibat kemoterapi, serta spastisitas atau otot kaku atau kaku, ” jelas Spesialis penyalahgunaan zat di Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania Perelman, Marvel Bonn-Miller dikutip dari laman berita kesehatan Inggris WebMD .  

Bonn-Miller pun menjelaskan cara konsumsi ganja obat itu sangat variatif. Penyintas dapat mengkonsumsi melalui alat yang disebut vaporizer, dimakan biasa seperti ditambahkan dalam brownies atau lollipop, mengedrop beberapa tetes cairan di kolong lidah. Menurut Bonn-Miller, perbedaan jalan konsumsi bakal memberi pengaruh bertentangan juga terhadap tubuh.

Ganja memiliki beberapa bahan-bahan kimia yang mirip dengan tembakau. Maka tersedia kekhawatiran bahwa konsumsi ganja dengan merokok juga dapat membahayakan paru-paru. Namun, efek ganja yang dihirup pada kesehatan paru-paru masih belum jelas. Tapi, ada beberapa data bahwa hal itu dapat memajukan risiko bronkitis dan masalah paru-paru lainnya.

“Jika Kamu memakannya, dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Butuh 1 mematok 2 jam untuk merasakan hasil dari produk yang dapat dimakan, ” jelasnya.

Bantu pecandu opioid

Sementara itu Ahli Hancur Saraf Sanjay Gupta memberi pesan bahwa ganja, bahwa penggunaan ganja untuk medis menurunkan kematian akibat overdosis opioid antara 1999 serta 2010 di AS.

“Ini bukan pertama kalinya hubungan antara ganja medis dan overdosis opioid ditemukan. Meskipun terlalu pra untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat, bukti ini menunjukkan bahwa obat ganja dapat menyelamatkan hingga 10. 000 nyawa setiap tahun, ” logat Gupta dilansir dari CNN .

Gupta bilang, ganja dapat membantu memulihkan rasa sakit, mengurangi ketergantungan mula akan opioid. Ganja juga efektif untuk meredakan gejala penarikan opioid, seperti pada pasien kanker, yang sakit akibat efek samping kemoterapi.

Di Indonesia, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tahu menetapkan tanaman ganja sebagai lengah satu tanaman obat komoditas binaan Kementerian Pertanian. Ketetapan itu termaktub dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK. 140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Syahrul sejak 3 Februari lalu.

Tetapi, tak lama berselang ia mengeluarkan aturan itu. Mentan menyatakan kalau pihaknya akan mengkaji dengan berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional MENODAI (BNN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

(khr/eks)

[Gambas:Video CNN]