Menyingkap Serat Centhini: Roman & ‘Ensiklopedia’ Jawa

Jakarta, CNN Indonesia —

Masyarakat Jawa memiliki beragam tradisi dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut tersimpan pada karya sastra berupa kitab, babad, serat dan suluk.

Di antara deret sajak itu, Serat Centhini   adalah salah satu mahakarya dengan hingga kini masih menjadi pegangan bagi sebagian karakter Jawa.

Dilihat dari sejarahnya, sajak yang telah berusia ratusan tahun ini memiliki nama sah Suluk Tembangraras. Suluk itu ditulis oleh tiga pujangga besar Keraton Surakarta dalam 1814 hingga 1823.


Tiga penulis tersebut terdiri atas Kiai Ngabei Ranggasutrasna, Kiai Ngabei Yasadipura II, dan Kiai Ngabehi Sastradipura. Tim ini dipimpin oleh Adipati Anom Amangkunagara III.

Ia merupakan putera mahkota Kerajaan Surakarta atau Keraton Solo yang diangkat menjadi raja dengan gelar Sunan Paku Buwono V pada 1820.

Menurut budayawan serta penulis buku Saya, Jawa, dan Islam, Irfan Afifi, Adipati Anom Amangkunagara III yang saat itu sedang remaja memerintahkan tiga sastrawan terbaik di kerajaannya untuk membukukan seluruh kebudayaan karakter Jawa yang bersumber dari kejadian nyata.

Buku terjemahan dan interpretasi Serat Centhini  (Foto: Tangkapan layar web kebudayaan. kemdikbud. go. id)

Tetapi dalam praktiknya, tiga sastrawan tersebut juga menyelipkan cerita-cerita fiksi sehingga Suluk Tembangraras merupakan semi fiksi.

“Ada fiksinya & historisnya, jadi seperti pembukuan kebudayaan Jawa sebelum kering maka dibuat jadi cerita, jadi ini merekam penuh hal, seperti ensiklopedi kemahiran Jawa yang dibungkus dalam narasi cerita, ” ujar Irfan kepada CNNIndonesia. com , Kamis (3/6).

Ketiga pujangga ternama tersebut belakangan merampungkan Suluk Tembangraras dalam 12 jilid yang terdiri dari 772 satuan bait.

Suluk ditulis dalam teks Jawa arkais atau Bahasa Kawi yang menjadi pendahulu bagi aksara-aksara Nusantara yang lebih baru, seperti aksara Jawa, huruf Bali, dan aksara Sunda.

Dalam perkembangannya, suluk ini terus menjelma pegangan orang Jawa tiap-tiap generasi. Tak hanya tersebut, karya sastra bernilai tinggi tersebut juga menarik pembaca dari luar masyarakat Jawa.

Meski satu diantara mahakarya  sastra Jawa ini secara universal menjadi  rujukan bagi spiritualitas dan ikatan antar-manusia, Serat Centhini  telanjur dianggap kebanyakan orang jadi salah satu kitab berlaku seks masyarakat Jawa.  

Aspek pedoman  susila dan spiritualitas tenggat irisannya  dengan seksualitas dalam Serat Centhini  coba disingkap dalam sejumlah tulisan  maupun infografis lainnya. Selamat ‘menyelami’ artikel-artikel  CNNIndonesia. com pada seri fokus berjudul Erotika di Sastra Serat Centhini  edisi Minggu (6/6).

Interpretasi berlapis Serat Centhini  mampu dibaca di halaman dua…

Penerjemahan Pantat, dari Jawa Halus hingga Bahasa Prancis

BACA HALAMAN BERIKUTNYA