MKEK IDI Sebut Akan Jalan Kasus Video Dokter Kevin

Jakarta, CNN Indonesia —

Ketua Majelis Kehormatan Nilai Kedokteran Pusat Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) Pukovisa Prawiroharjo menyampaikan pihaknya bakal memproses dugaan pelanggaran  kode  etik sinse dengan dilakukan Kevin Samuel soal unggahan videonya di TikTok .

Seorang dokter muda, Kevin Samuel Marpaung @dr, kepinsamuelmpg mengunggah video melalui akun TikTok miliknya pada Sabtu, (17/4). Video berdurasi 15 denyut itu berisi adegan penelitian Vaginal Touche. Ini merupakan praktek yang dilakukan jadi bagian observasi persiapan persalinan berupa pemeriksaan vagina.

Dalam video tersebut, sang dokter memeragakan Vaginal Touche yang disertai dengan teks percakapan dengan seorang bidan.   Video itu dianggap melecehkan perempuan secara umum dan pasien rani yang membutuhkan layanan kesehatan secara khusus.


“Ya kami cara dulu, ” kata Pukovisa melalui pesan singkat kepada CNNINdonesia. com, Minggu (18/4), saat ditanya mengenai adanya sanksi soal video itu.

Kini, akun Tiktok dengan bersangkutan telah hilang, akun Instagram dan Twitter sudah di private. Namun video tersebut telah tersebar di Tiktok, Instagram dan Twitter.

Langkah lain yang akan ditempuh IDI menurut Pukovisa yakni membina regulasi dalam bermedia baik.

“Ya mau dirilis mudah-mudahan dalam masa dekat fatwa bermedia baik, ” imbuhnya.

Sementara itu, Koalisi Klub Sipil Anti Kekerasan Seksual (Kompaks) dan Gerakan Dokter Anti Stigma mengecam tindakan Kevin. Menurut mereka, dalam pernyataan resminya, reka fragmen yang dilakukan dengan menganjurkan candaan bernuansa seksual menjatuhkan perempuan.

“Kami mengecam konten buatan dr. Kevin Samuel yang menunjukkan sikap merendahkan dalam reka adegan pemeriksaan pasien sebelum persalinan. Perilaku ini bertentangan dengan ukuran etis dan kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam profesi dokter, ” ungkap Sandra dari Dokter Tanpa Ciri, dalam rilis pers, Minggu (18/4).

“Dokter seharusnya mampu memberikan menemui aman dan nyaman dalam pasien dalam setiap konsultasi kesehatan maupun dalam keseharian. Di era digital zaman ini dokter seharusnya berpunya memanfaatkan media sosial buat mengedukasi masyarakat demi tercapainya kesehatan masyarakat yang lebih baik. ”

Tak hanya itu taat koalisi itu video Kevin telah melanggar kode nilai dan sumpah dokter.

Satu diantara anggota Kompaks, Annisa Yovani mengatakan bahwa Kompaks serta Dokter Tanpa Stigma pula sudah mengirim surat persaingan ke IDI. Namun, mematok kini belum ada tanggapan dari pihak terkait.

“Makanya kita sebenarnya harapannya beritanya biar bisa naik ya dan tersebut kan udah mulai penuh yang postingkan di sosial media, paling ngga mampu ngasih semacam penekanan ke IDI kalau ini memang harus diseriusin, ” jelasnya saat dihubungi CNNIndonesia. com, Minggu (18/4) malam.

(isa/eks)

[Gambas:Video CNN]