Nilai dan Kedekatan, Alasan Drama Thailand Digandrungi

Nilai dan Kedekatan, Alasan Drama Thailand Digandrungi

Jakarta, CNN Indonesia —

Kehadiran  drama Thailand belakangan menjadi salah mulia hiburan yang cukup digandrungi, tidak kalah dengan drama Korea. Latar kehidupan yang tak jauh bertentangan hingga kaya akan nilai menjelma faktor drama Thailand pun bertambah mudah diterima penggemarnya di Nusantara.

Salah satu penggemar drama Thailand itu adalah Raissa Nathania. Raissa mengaku mulai tertarik dengan drama Thailand sekitar perut tahun belakangan. Komedi yang bugar dalam drama Thailand membuatnya senang menyaksikan karya dari negeri melintas itu.

“Dan mungkin karena ada beberapa poin cerita ceritanya relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia, jadi terasa dekat aja, ” kata Raissa kala bercerita dengan CNNIndonesia. com , beberapa masa yang lalu.


“Yang bikin unggul menurutku karena drama Thailand berani membahas hal-hal dengan di sini masih dianggap tabu, dan ceritanya lebih variatif, ” lanjutnya.

“Dari drama romansa, komedi, sampai sci-fi mereka bisa eksekusi dengan baik. Dan enggak cuma buat fan lokal selalu, mereka tahu cara promosi untuk fan internasional, ”

Awal perkenalan Raissa pada drama Thailand sendiri  ketika menonton serial Hormones. Namun, serial itu tidak langsung membuat ia jatuh hati & menggilai drama Thailand.

Baru setelah mengikuti serial The Gifted, Love Sick: The Series, serta Who Are You, dia kemudian mengukuhkan diri sebagai pecinta drama Thailand.

“The Gifted ini seru banget karena tentang fantasi misteri, jadi enggak yang cinta-cintaan kayak drama umum, ceritanya beda tapi dieksekusi dengan baik, ” papar Raissa.

Drama Thailand, The Gifted. (dok. Parbdeetawesuk/GMMTV via IMDb)

“Love Sick itu secara produksi menurutku enggak rupawan, benar-benar banyak banget kekurangannya, tapi entah kenapa penyampaian ceritanya molek karena dia cerita tentang topik yang agak tabu yakni LGBT tapi dengan cara yang halus dan bikin yang nonton terenyuh saja. Secara mereka menceritakan tentang anak sekolah, jadi terasa ‘ pure ‘ dan enggak berlebihan, ” dia menambahkan.

Dekat Kesayangan

Sementara untuk serial Who Are you yang diadaptasi dibanding drama Korea, Raissa menilai pelaku itu memiliki kualitas produksi mengikuti kemampuan akting pemeran yang jalan, bahkan mendapat respons yang bertambah unggul dibanding versi asli.

Kecintaan pada drama Thailand ini pun telah membuat dia tak segan pergi menghadiri agenda jumpa fan di Thailand yang menampilkan aksi para aktor yang di bawah agensi kenamaan, GMMTV.

Di sana, ia tidak hanya menyaksikan idola pada atas panggung tapi juga berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung.

Mulai dari menjumpai White Nawat Phumphothingam hingga menyapa tepat dan foto bersama dengan para bintang drama favoritnya, The Gifted yakni Nanon Korapat dan Sing Harit Cheewagaroon.

“Mungkin ini jadi salah satu gaya tarik ngikutin drama Thailand, karena kita bisa merasa sedekat itu setara aktornya. Akses ketemu mereka serta untuk interaksi langsung cenderung lebih mudah dibandingkan artis Korea misalnya, ” ungkapnya.

Nanon  Korapat  dalam drama Thailand, The Gifted. (dok. Parbdeetawesuk/GMMTV via IMDb)

Kemudahan akses dekat dengan sang idola pun dinilai Raissa membuat penggemar lebih ingat diri dan menghormati.

Tidak hanya di dunia nyata, ia juga mengungkapkan bahwa bintang film dan aktris Thailand cukup rajin berkomunikasi dengan penggemar via jalan sosial. Bahkan, di masa pandemi ini, para bintang tersebut menyediakan diri menggelar jumpa fan virtual.

“Overall, mereka terang cara fan service dengan baik. Dan itu sih , mungkin karena kebiasaan dan budaya mereka ada yang mirip secara Indonesia, jadi terasa dekat, ” tambahnya.

Budaya

Sementara itu, Antonius yang merupakan warga Indonesia yang sudah menetap di Thailand sejak lima tahun lalu, berbagi pandangan mengenai perkembangan drama Thailand selama ia tinggal di sana.

Menurutnya, yang menjadi keunggulan pelaku Thailand yakni menyisipkan nilai-nilai kesibukan, baik itu budaya, sosial, ataupun refleksi dari kehidupan nyata.

“Ciri khas drama Thailand adalah mereka selalu membawa budaya Thailand itu sendiri baik itu budaya kuno berdasarkan sejarah maupun budaya modern sekarang ini, ” kata Antonius.

“Selain itu, selalu ada pelajaran-pelajaran dan nilai-nilai yang disampaikan di pada setiap drama itu sendiri, ” lanjutnya.

Ada beragam alasan penggemar menetes cinta dengan drama Thailand, mulai dari soal cerita hingga bisa dekat dengan idola.: (dok. Bravo Studios/H2L Media Group/Netflix via IMDb)

Setali tiga uang dengan Antonius, besar penulis skenario studio Kantana dengan telah membuat drama dan film Thailand sejak 1951, Lalita Chantasadkosol mengatakan bahwa faktor kedekatan dengan kehidupan penonton adalah kunci daripada drama Thailand.

“Penonton massal, terutama pedesaan, ingin menonton sesuatu yang berhubungan dengan itu. Dengan pemikiran tersebut, kami menciptakan naskah dan menyisipkan twist buat sebuah cerita yang menghibur & mudah diikuti, ” kata Chantasadkosol kepada  Bangkok Post pada 2013 lalu.

“Kami harus memahami sifat dan target audiens , dan seolah-olah bagaimana mereka akan makan di toko mie dibanding restoran Italia, kami memberi mereka lakorn dengan bagus dengan citarasa lokal, ” lanjutnya.

Di samping itu, drama yang disuguhkan pula memiliki konten yang ringkas, tak membosankan dan bertele-tele. Episode untuk tiap drama Thailand hanya berkisar 12 hingga 13 episode, tidak jauh berbeda dengan drama Korea.

Hal itulah dengan kemudian menurut Antonius dan penggemar drama Thailand lainnya lebih mungkin menerima kisah dari Negeri Gajah Putih tersebut. Belum lagi, teknik permainan emosi yang dimainkan.

Ilustrasi. sutradara naskah Sirilux Srisukon membicarakan beragam sajian dan cerita yang kadang kontroversial memiliki tujuan khusus. (dok. Bravo Studios/H2L Media Group/Netflix via IMDb)

Sementara itu, soal anggapan konten drama Thailand yang menampilkan hal kontroversial seperti adegan kebengisan serta pelecehan seksual, Antonius berpendapat bahwa itu dihadirkan sebagai bentuk edukasi.

“Di sini selalu mengangkat topik kehidupan nyata dan memberikan nilai-nilai pelajaran yang positif bagi penontonnya. Jadi topik seperti kekerasan, pelecehan seksual & lainnya ditangkap dengan tujuan positif, ” ujarnya.

Sementara itu, sutradara naskah Sirilux Srisukon menyebut beragam sajian dan cerita yang kadang kontroversial memiliki arah khusus. Apalagi bila bukan mengambil emosi penonton demi menjadi 1 pembicaraan.

“Penonton [lebih] terlibat secara hati saat menonton lakorn Thailand, sedangkan serial Barat membuat mereka memasukkan ceritanya secara rasional. Acara Barat menjaga jarak dari penonton, ” kata Srisukon kepada Bangkok Post pada 2013 lalu.

“Tak peduli seberapa sensasional sebuah sinetron [Thailand], sekalinya berakhir, emosi akan habis dan penonton akan beranjak ke kisah selanjutnya sehingga mereka bisa bergabung dalam pembahasan yang sedang ramai, ” lanjutnya.

“Lakorn ialah topik ‘hot’ bersama dengan fesyen, sepatu, riasan, yang sering dibicarakan perempuan Thailand, ” katanya.

(agn/end)

[Gambas:Video CNN]