Pabrik Keuangan Syariah RI Naik Status ke-2 Dunia

Pabrik Keuangan Syariah RI Naik Status ke-2 Dunia

Jakarta, CNN Indonesia —

Islamic Finance Development Indicator (IFDI) membawa industri  keuangan syariah Indonesia pada posisi kedua dunia pada tahun ini atau naik 2 status dari tahun lalu. Posisi Nusantara hanya di bawah jiran Malaysia.

Head of Islamic Finance Refinitiv Mustafa Adil mengecap peningkatan tersebut didorong oleh dukungan pemerintah RI yang gencar melayani sosialisasi dan edukasi terkait industri maupun produk keuangan syariah.

Tak hanya melihat ukuran industri keuangan syariah itu tunggal, Mustafa menyebut indikator lainnya yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan adalah edukasi dan kesadaran masyarakat bakal industri keuangan syariah.



“Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat cara dalam hal edukasi dan kesadaran masyarakat. Pemerintah RI juga beroperasi baik dan ini diikuti sebab tren serupa di pasar syariah lainnya, ” katanya pada press briefing daring, Selasa (15/12).

Pun begitu, ia menyebut sedang ada beberapa hal yang kudu dibenahi pemerintah jika ingin menjelma kekuatan keuangan syariah terbesar. Lengah satunya, memperbaiki sektor perbankan syariah.

Saat ini, perbankan syariah Indonesia menduduki posisi ketiga dunia. Menurut Mustafa, pemerintah Nusantara dapat melakukan perbaikan yang signifikan dalam sektor terkait.

“Saat ini Indonesia menduduki gaya ketiga dalam hal aset perbankan syariah secara global dan ada perbaikan signifikan yang bisa dilakukan, ” ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Bertambah lanjut, ia juga menyebut potensi tersebut mulai disadari oleh negeri Indonesia. Ini terlihat dari ketekunan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang khusyuk dalam mengembangkan industri keuangan syariah.

Salah satu contohnya adalah merger tiga bank syariah BUMN menjadi Bank Syariah Nusantara pada tahun ini.

Ketiganya adalah PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Mandiri Syariah, dan PT Bank BNI Syariah. Nantinya, bank hasil merger itu memiliki aset mencapai Rp214, 6 triliun, dengan modal pokok lebih dari Rp20, 4 triliun.

(wel/sfr)