Pakar Bongkar Vaksin Corona Johnson serta Johnson Ampuh 66 Persen

Jakarta, CNN Indonesia —

Vaksin Covid-19   buatan  Johnson & Johnson dinilai layak biar tingkat keampuhan atau efektivitas  cuma 66 persen. Vaksin Johnson & Johnson diketahui hanya membutuhkan satu dosis untuk mencegah Covid-19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat dilaporkan bakal segera mengeluarkan keputusan terhadap nasib vaksin Johnson & Johnson. Sekitar ini, FDA baru memberi kerelaan penggunaan darurat bagi vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan Moderna.

Melansir NPR, uji klinis Fase 3 vaksin Johnson & Johnson menunjukkan bahwa vaksin itu 66 persen efektif dalam menghalangi kasus Covid-19 kategori sedang maka parah. Persentase itu kalah jauh jika dibandingkan Moderna dan Pfizer yang mencapai 95 persen.



Peneliti kebijakan kesehatan serta dekan Brown University School of Public Health, Ashish Jha mengiakan telah menyarankan kepada keluarganya buat menerima vaksin Johnson & Johnson setelah disahkan oleh FDA.

“Apa yang saya katakan kepada keluarga hamba adalah, segera setelah vaksin J& J disahkan, jika itu yang bisa Anda dapatkan, Anda harus mendapatkannya segera setelah giliran Kamu mengantre, ” kata Jha.

Dia menuturkan bahwa efektivitas 66 persen versus 95 upah bukanlah perbandingan yang tepat karena beberapa alasan.

Dia mencatat bahwa vaksin Johnson & Johnson diuji di pengaturan dengan berbeda, yakni di AS, kurang negara Amerika Latin, dan Afrika Selatan, tempat beberapa varian virus yang mengkhawatirkan pertama kali tampak.

“Jadi angka 66 persen itu benar-benar merupakan konsolidasi dari berbagai uji klinis dengan berbeda. Moderna dan Pfizer tidak diuji dalam keadaan tersebut, ” ujarnya.

Melansir The Washington Post, Jha menuturkan vaksin Johnson & Johnson bukanlah vaksin yang rendah kualitasnya. Dia mengisbatkan vaksin itu aman, efektif, serta kuat dalam upaya mengakhiri pandemi, mengurangi penderitaan, dan menyelamatkan menutup.

Poin yang paling penting dalam tes klinis Fase 3 vaksin Johnson & Johnson adalah 100 persen efektif dalam mencegah rawat inap dan kematian akibat Covid-19. Tak ada satu orang pun pada studi vaksin Fase 3 yang dirawat di rumah sakit ataupun meninggal karena Covid setelah 28 hari menerima vaksin Johnson & Johnson.

Jha menambahkan vaksin Johnson & Johnson menunjukkan dua kualitas penting yang tidak dapat diklaim oleh vaksin Pfizer maupun Moderna, yakni vaksin tersebut diberikan dalam satu dosis dan dapat tetap stabil selama setidaknya tiga bulan pada suhu pendinginan normal.

Hal itu menawarkan kenyamanan bagi profesional perawatan kesehatan dan penerima vaksin tanpa mengorbankan kemanjuran terhadap bentuk keburukan yang paling parah.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]