Pinangki Bantah Terima USD500 Ribu dibanding Djoko Tjandra

Pinangki Bantah Terima USD500 Ribu dibanding Djoko Tjandra

Jakarta, CNN Indonesia —

Tersangka kasus korupsi,   Pinangki Sirna Malasari , membantah telah menerima uang USD500 ribu dari terpidana korupsi benar tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra , terkait pengurusan fatwa Majelis hukum Agung (MA).

Sangkalan itu disampaikan Penasehat Hukum Pinangki, Aldres Napitupulu,   saat membacakan eksepsi atau nota keberatan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (30/9).

“Terdakwa tidak pernah meminta maupun menyambut uang sebesar USD500 ribu indah dari Joko Soegiarto Tjandra maupun dari orang lain, ” sirih Aldres dalam sidang.


Ia mengatakan peristiwa korupsi dengan dituduhkan kepada Pinangki dalam menerima uang USD500 ribu itu tak didukung dengan bukti nyata, bahkan sampai saat ini, siapa pemberi dan siapa penerima uang masih jelas.

Dalam dakwaan, kata Aldres, Pinangki disebut menerima uang dari Djoko Tjandra melalui Kuncoro yang lalu diganti menjadi Heriyadi Anggakusuma (adik iparnya) untuk kemudian diberikan kepada Andi Irfan Jaya, kerabat Pinangki.

“Anehnya pemberian uang tersebut Djoko Soegiarto Tjandra justru tidak pernah mengkonfirmasi apakah Andi Irfan Jaya benar-benar telah menyambut uang tersebut dan tidak pernah sekalipun meminta pelaksanaan pekerjaan dengan dimintakan kepada Andi Irfan Jaya, ” ucap dia.

Kemudian, lanjut Aldres, Djoko Tjandra pun menyatakan bahwa Heriyadi Anggakusuma sudah meninggal dunia. Namun, bagian penyidik tidak pernah mencoba menyidik lebih dalam keterangan mengenai jalan pemberian uang tersebut untuk memastikan bahwa benar ada uang dengan telah diberikan.

“Bahkan sampai saat ini baik sejak keterangan Djoko Sugiarto Tjandra dan Andi Irfan Jaya saling bertolak belakang namun dibiarkan begitu saja oleh Penyidik, ” ucap dia.

Lebih lanjut, Aldres juga menyampaikan, bahwa Pinangki membantah sudah meminta tolong kepada Andi Irfan Jaya dan pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking, untuk mengurus pedoman tersebut.

Selain itu, Pinangki juga menengkari membuat atau menyampaikan proposal action plan pengurusan fatwa kepada Djoko Tjandra.

“Terdakwa tak pernah meminta uang sebesar 10 juta dollar AS kepada Djoko Soegiarto Tjandra, baik secara langsung maupun melalui orang lain, dalam rangka pengurusan fatwa MA, ” kata Aldres.

Lalu, Pinangki juga membantah telah menyerahkan uang sebesar USD50 ribu pada Anita Kolopaking.

“Bahwa Terdakwa tidak pernah menyerahkan uang sebesar USD50 ribu kepada Anita Kolopaking di Apartemen Essence Dharmawangsa, ” ucap Aldres.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Agung sebelumnya menjerat Pinangki Habis Malasari dengan tiga dakwaan berbeda.

Pinangki didakwa secara Pasal gratifikasi, Pasal Tindak Kejahatan Pencucian Uang (TPPU), dan Perkara Pemufakatan Jahat.

Jaksa mengatakan Pinangki telah menerima uang sebesar USD500 ribu dari Djoko Tjandra. Uang itu dimaksudkan untuk membantu pengurusan fatwa Mahkamah Gede (MA) melalui Kejaksaan Agung agar pidana penjara yang dijatuhkan ke Djoko Tjandra selama 2 tahun tidak dapat dieksekusi.

Jaksa menerangkan kekayaan USD500 ribu itu merupakan fee dari jumlah USD1 juta dengan dijanjikan Djoko Tjandra. Uang itu diterima Pinangki melalui perantara Andi Irfan Jaya. Dari jumlah tersebut, sebesar US$50 ribu diberikan pada pengacara Djoko, Anita Kolopaking.

Jaksa menyebut ia pula menukarkan dan membelanjakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi dengan maksud menyamarkan asal usul harta kekayaannya. Seperti membeli 1 unit mobil BMW mewah, perawatan kesehatan dan kecantikan, hingga pembayaran sewa apartemen.

Sedangkan dalam perkara ketiga, Pinangki bersama Djoko Tjandra dan Andi Irfan Jaya didakwa melakukan pemufakatan jahat. Jaksa berbicara mereka menjanjikan uang USD10 juta kepada pejabat di Kejaksaan Gede dan Mahkamah Agung.

(yoa/ayp)

[Gambas:Video CNN]