Rekrutmen Pegawai, 2 PNS Kemenag Diduga Tipu Warga Maluku

Rekrutmen Pegawai, 2 PNS Kemenag Diduga Tipu Warga Maluku

Jakarta, CNN Indonesia —

Sebanyak sepuluh warga Maluku diduga menjadi korban penipuan dua anggota Aparat Sipil ( PNS ) di lingkup Kementerian Agama ( Kemenag ) provinsi Maluku. Mereka berinisial SL dan RA.

“Kami ditipu SL dan RA, modus menjanjikan kami diangkat jadi pegawai di kementerian agama melalui jalur bagian dua (K2), ” kata korban Santi Ohorella, saat dihubungi, Jumat (24/7).

Santi Ohorella, warga Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, mengaku premi uang senilai Rp30 juta kepada SL. SL, kata dia kemudian berikan uang tersebut kepada RA sebagai tanda jadi.


“SL bertugas di Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, RA bertugas dalam Kemenag Seram Bagian Timur, ” imbuh dia.

Santi mengaku terpaksa memberi uang kepada yang bersangkutan SL atas perintah RA dengan taruhan menjadi pegawai Kemenag melalui galur pengangkatan kategori dua (K2) semenjak 2017.

“Saya dimintai beri uang sebesar itu dan saya kasih. Tapi selama perjalanan nama kami tak ada sebagai ASN. Kami berikan bukan ana datang mencari-cari, tetapi mereka yang menawarkan dengan penuh keyakinan, “imbuh dia.

Korban lalu hubungi SL dan RA meminta uang dikembalikan lantaran nama mereka sebagai pegawai tidak ada setelah hasil pengumuman seleksi kategori dua (K2) oleh Kementerian Agama Maluku.

“Yang bersangkutan berjanji akan mengembalikan uang namun datang saat ini belum dikembalikan sepersen pun, “tuturnya.

Tak hanya Santi target penipuan. SL dan RA pula menipu korban lain dengan cara melakukan aksi kejahatan meluas sampai ke di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

“Setahu saya, lebih sejak 10 orang jadi korban penipuan, ada salah satu tetangga memasukkan uang sebesar Rp60 juta, “tambahnya

Korban lain, Ani asal warga Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah mengaku menjelma korban penipuan dua anggota pegawai Kementerian Agama Maluku. Ani mendatangkan uang senilai Rp40 juta sebagai mahar agar anaknya bisa diangkat menjadi PNS dalam seleksi pengangkatan Honorer K2 di lingkup Kementerian Agama.

“Uang tersebut sebagai tebusan dengan harapan anaknya jadi PNS, uang itu diterima sang pelaku SL dengan informasi kwitansi, ” kata dia masa dihubungi terpisah.

Kepolisian Sektor (Polsek) Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah pernah memanggil SL atas laporan pihak korban. Sang pelaku SL, sambung Ani, mengaku bersalah dan membuat penjelasan untuk mengembalikan uang tersebut pada 2019.

“Dari Rp40 juta sang pelaku SL mencicil, namun masih tersisa sekitar Rp15 juta belum terbayar, “ungkapnya.

Nasib sama dirasakan Nema, korban penipuan asal warga Tulehu, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Nema mengaku menyetor uang sebesar Rp40 juta kepada sang pelaku. Uang puluhan juta tersebut diterima SL dengan jaminan akan lolos jadi PNS dalam seleksi pengangkatan honorer  K2.

“Saya memasukkan uang cash sebesar Rp40 juta. Uang itu diambil SL dalam rumahnya. Ada surat pernyataan dengan dibuat termasuk kwitansinya. Sampai saat ini masih saya simpan, “kata Nema saat dihubungi terpisah.

Lebih lanjut, introduksi Nema, SL mengatakan akan mendatangkan uang setoran korban ke RA selaku pihak pertama di lingkup Kemenag Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

“Mereka perdana kembalikan sebagian, masih tinggal puluhan juta yang belum mereka kembalikan, saat ini nomor mereka pelik dihubungi karena sering ganti-ganti nomor handphone, “kata di menjelaskan.

“Setahu saya ada sekitar 10 orang bahkan lebih. Serta paling banyak menjadi korban masyarakat Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tenga, “ungkapnya.

Sebelumnya, perut Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam lingkup Kementerian Agama (Kemenag) Daerah Maluku, berinisial SL dan RA melakukan aksi penipuan sejak tarikh 2017.

Kala itu, Kementerian Agama daerah Maluku membuka seleksi pengangkatan pengasuh honorer  melalui jalur kategori besar (K2) tahun 2017. Saat tersebut, SL berperan sebagai calo sementara RA berperan sebagai juru eksekusi untuk meloloskan peserta seleksi yang berikan uang jaminan kepada pelaku.

Biaya yang dipatok pelaku bervariasi, mulai dari Rp20 juta hingga Rp50 juta disertai pembuatan surat pernyataan di arah materai  Rp6000.

Objek meminta pihak Kementerian Agama Daerah (Kemenag) Maluku segera mengevaluasi perilaku kedua ASN tersebut supaya mereka secepat mengembalikan uang korban.

(sai/bmw)

[Gambas:Video CNN]