Tato Tak Halangi Aktivitas Donor Darah

Tato Tak Halangi Aktivitas Donor Darah

Jakarta, CNN Indonesia —

Beberapa kondisi kadang terpaksa bakal membuat rutinitas donor darah tertunda. Salah satunya, ketika Anda tidak fit atau  tekanan darah kecil usai begadang. Tapi bagaimana dengan Anda yang bagian tubuhnya terdapat  tato ?

Calon pendonor memang dianjurkan mempersiapkan kondisi tubuh seperti cukup rebah, asupan cairan dan nutrisi. Menyesatkan tidak sehari sebelum donor pembawaan, hindari mengonsumsi obat dan alkohol. Dan, tato yang melekat dalam tubuh sebagian dari Anda, sesungguhnya tak menghalangi aktivitas donor darah.

Kepala Unit Transfusi Darah PMI DKI Jakarta Ni Ken Ritchie mengutarakan, kepemilikan tato memang termasuk dalam formulir pendaftaran donor darah. Namun ini bukan berarti seseorang tidak boleh donor sama sekali cuma karena punya tato.


“Kami perlu tahu kapan tato dibuat. Kalau sudah setahun, besar tahun, risikonya akan berbeda dengan yang baru dibuat, ” sekapur Ni Ken menjelaskan perihal tato dan aktivitas donor darah, di dalam sebuah wawancara kepada CNNIndonesia. com asal September 2020.

Buat diketahui, pembuatan Tato termasuk modus yang melibatkan jarum, sementara PMI tidak bisa memastikan jarum dengan digunakan itu baru atau bekas. Karena itu pertanyaan soal tato perlu disertakan dalam formulir donor darah.

Kemudian, transmisi penyakit hingga timbul gejala biasanya memerlukan jeda waktu atau periode jendela. Deteksi penyakit jika ada bakteri atau virus yang menghuni tubuh akan tampak dalam seminggu hingga 3 bulan, karena antibodi yang terbentuk.

“Sebaiknya beri jeda waktu agak periode, enam bulan setelah membuat rajah, baru bisa donor dan bagian PMI bisa mendeteksi jika tersedia penyakit, ” imbuh Ni Ken lagi.

Bagaimana dengan  donor darah saat haid?

Meski tidak berhubungan dengan jarum, kondisi menstruasi atau bocor justru yang bisa menghalangi denyut donor darah. Namun hanya dalam awal-awal masa menstruasi saja.

“Perempuan saat haid pada hari pertama, hari-hari awal itu [pelepasan darah] cukup banyak sehingga tidak disarankan. Apalagi tahu data, kondisi perempuan Indonesia cenderung memiliki hemoglobin (Hb) rendah, ” terang Ni Ken.

Akan tetapi ia menjelaskan, pendonor perempuan tidak harus menunggu tenggat menstruasi selesai. Ni Ken mengajukan selepas hari-hari awal menstruasi, rani baru bisa mendonorkan darah.

“Setelah melewati hari-hari pokok, boleh donor darah, ” introduksi Ni Ken.

(els/NMA)

[Gambas:Video CNN]